Malam Pembantaian Thomas Parr 1807 (II)

  • Share
Tugu Thomas Parr.

Cerbung History:  Benny Hakim Benardie.

Siapa Pelakunya

“Pribumi tak berprikemanuasiaan, kejam dan sadis”. Itulah yang dikatakan  para orang-orang Inggris saat kabar pembantaian Thomas Parr meluas cepat seantero negeri, yang oleh mereka disebut Negeri Bencoolen. Sebelumnya nama Bengkulu memang sudah ada, jauh  sebelum digantikan Koloni Inggris yang tiba Tahun 1684 Masehi.

Pagi itu, ketegangan mulai tampak di masyarakat.  Setiap orang yang dianggap mencurigakan langsung di introgasi.  Kota Bencolen siaga satu dan jam malam mulai diterapkan. Apalagi sudah berbulan-bulan, hasil pertanian mulai tak menentu sejak Thomas Parr mengeluarkan maklumat,  memaksa seluruh petani untuk menanam bibit kopi.

Kebingungan  akibat tanam paksa itu diberlakukan, mengingat harga kopi dunia  mulai menjanjikan, dibanding lada dan cengkeh yang mendapat kendala kini  dalam pendistribusiannya. Momentum itulah menimbulkan kepanikan sosial masyarakat pribumi.

“Tak bisa dibiarkan. Kita tak punya uang untuk bertahan hidup. Panen kita sudah tidak dihargai”.

Itulah perbincangan  para buruh Pelabuhan Boom yang letaknya tak jauh dari Benteng Marborough dalam komunitas bahasa Krui dan Rejang.  Mereka juga berbisik-bisik soal siapa pembunuh Residen Bencoolen Thomas Parr dan asisten Residen Charles Murray. Sesekali mereka harus melirik  Karena paling tidak ada sekitar 400 serdadu Inggris dan antek-anteknya melintas atau berada di sekeliling mereka.

Dengan mengerahkan sepenuh kekuatan, pemberontakan dalam perlawanan itu  dapat di netralisir. Dengan informasi informan, maka para pelaku diketahui merupakan orang Rejang wilayah Pasar Bengkulu. Pelaku yang diduga membunuh itu akhirnya ditangkap, hingga akhirnya dikenakan hukuman mati.

Pemerintahan Inggris di tahun berikutnya, melalui East India Company membangun monumen untuk mengenang Residen Thomas Parr yang letaknya di antara Benteng Marlborough dan Mount Felix. Residen Thomas Parr dianggap berjasa bagi perusahaan Inggris yang berada di Benggal India.

“Di sini disimpan sisa-sisa dari Thomas Parr Esquire, Residen dan Perwakilan dari EI Cy yang Terhormat. di Fort Marlborough di Bencoolen, yang meskipun seorang Bapak yang berbudi luhur kepada Penduduk Melayu dan dengan sigap untuk meningkatkan kebebasan dan kesejahteraan mereka dalam pengenalan spontan yang bijaksana dan bertahap… ivalled kekejaman bawah fury salah kaprah dan barbar dari Band of Assassins di Malam tanggal 27 Desember AD 1807 di … th Tahun Zamannya”, menurut maklumat pihak Inggris. 

Marahnya Pribumi 

Langit cerah di hati yang mendung terus menggapai takdir masyarakat pribumi Bengkulu. Kematian tragis residen Bencoolen ini ternyata menyisakan sedih dan luka mendalam di kaum kerabat.  Thomas Parr sejak lulus pendidikan di Macclesfield School, ia dinominasikan ke Bengal Civil Service pada 1783 oleh J. Clements dari London, Inggris.  Thomas bekerja sebagai Merchant Senior untuk perusahaan, hingga karirnya mengangkat dirinya menjabat  Residen Bencoolen pada April 1805.

Kehadiran perusahaan-perusahaan India Timur di Sumatra mulai  1685 (84). Kala itu perusahaan

mendirikan pabrik kecil di Bencoolen. Tentunya mereka ingin memonopoli  lada dan rempah-rempah lainnya seperti yang didahului oleh pihak perusahaan Belanda.  Untuk meluaskan kekuasaannya, mereka sempat  mendirikan Benteng pertahanan EIC pertama kalinya di daerah Rejang, Bukit Pasar Bengkulu, Benteng York.

Lama tak mungkin  pernah bersahabat. Curahan hujan dari asinnya laut, merusak beton dan besi yang ada. Benteng di pinggiran sungai itu berlahan tergerus air.   Benteng York mulai representatif, ditambah kerusakan permanen benteng, EIC kembali membangun Benteng Marlborough Tahun 1713 dan 1719. Ini penting  untuk melindungi kepentingannya dalam perdagangan lada. Hingga akhirnya Thomas Parr dipromosikan menjadi Residen Bencoolen.

Negeri yang banyak rawa gambut dan berbukit. Penyakit kolera acap menyerang, termasuk penyakit  malaria.   Penunjukan Thomas Parr sebagai residen, tak diragukan lagi, karena keahliannya sebagai pengusaha dan berlatar belakangnya ilmu keuangan.

Kematian tragis Residen Thomas Parr dan terlukanya sang istri, akhirnya banyak menguak fakta wilayah kecil Bencoolen di Pantai Barat Sumatra. Perusahaan EIC di Bengal India itu ternyata selama ini merugi. Pemerintahan di Bencoolen  ternyata terus-menerus menguras keuangan perusahaan, hingga merugi sebesar £ 87000 17 Dolar Sumatera/.

Dalam  memorandum Tahun 1809 menguraikan masalah-masalah dasar dihadapi administrasi perusahaan.  Keuangan perusahaan minus disebabkan pembangunan Benteng Marlborough di Tahun 1785. Hingga akhirnya peran Keresidenan Benteng Marlborough  direduksi menjadi kediaman, dan tunduk pada kendali Pemerintah Bengal di India.

Thomas Parr telah menjadi monumen dan dikenang. Akhirnya pada era  penggantinya Richard Parry baru tahu bagaimana susahnya mengurus dan mengatur  pribumi di tengah kurangnya Pegawai Negeri Sipil yang berkualitas di Benteng (Fort) Marlborough.

Banyak yang terkuak sejak Thomas Parr berkuasa sebagai residen.  Banyak kebijakannya yang merugikan masyarakat pribumi, dengan pengurangan  pekerja besar-besaran. Sejumlah orang diusir dari pekerjaannya dan akibatkan banyak masyarakat yang kelaparan. Thomas Parr menerapkan kebiasaannya sebagai  pekerja terlatih dalam bentuk praktis yang ketat di Benggala India. Ia terbiasa dengan kepatuhan tak terbatas, dari yang tunduk dan orang-orang yang ditaklukkannya.

Mukidin seorang pekerja pribumi Rejang  yang sempat teribas kesewenangan Residen Thomas Parr, sebelum pindah di Karesidenan Selebar, dibawah Residen Residen Selebar Thomas Blair, mengeluh pada kerabatnya soal Residen Thomas Parr.

“Thomas Parr itu secara tidak sengaja memberikan rasa jijik yang besar, dengan membawa ide dan prinsip sewenang-wenang. Thomas Parr itu  membuat perubahan besar di pengadilan pribumi Bencoolen. itu dilakukannya tanpa persetujuan atau arahan dari kepala negeri”, keluhnya.

Ternyata di masyarakat pribumi pun umpatan itu juga terjadi. Thomas Parr diasumsikan sebagai otoritas sewenang-wenang dan independen dikelompoknya saja. Thomas Parr selama menjadi residen membuat pribumi merasa takut. Banyak perubahan dalam  lembaga dan adat istiadat pribumi dirubah sekehendak kepentingannya. Bersambung.

*Cerpenis tinggal di Kota Bengkulu/dikisahkan dari berbagai sumber. 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *