banner 728x250
Cerpen  

Impian dan Harapan Ku

Ilustrasi/Foto-Net
banner 468x60

By Rizal Piliank

Terik mentari tak kian reda dan rembulan malam pun berganti menampakkan wajahnya. Pagi menyingsing mengepakkan sayapnya tanda dimulainya perjalan setiap insan. Senja pun datang menutup kisah bahwa perjalanan hari ini telah usai. 

Impian dan harapan ku mulai terasa hampa, ketika Aku terlahir dari keluarga yang tak berada. Karena himpitan ekonomi orang tua, ku harus menerima dengan lapang dada. Hidup adalah sebuah perjalanan yang mesti ku dilalui meski tak bergelimangan harta. 

Kalaupun Aku bisa memilih sejak aku dalam kandungan ibuku. Ku ingin memiliki keluarga yang serba ada. Keluarga yang bisa mendengarkan apa yang ku rasa, apa yang ku impikan dan apa yang ku harapkan. Ternyata semua itu hanya cerita belaka, aku syukuri saat ini apa yang ada. 

Di kota kelahiran ku, kedua orang tua ku hanya dipandang sebelah mata oleh sanak familinya. Situasi dan kondisi ini membuat orang tua ku tidak berdaya. Jangankan mendapatkan support dan dukungan dari kerabat mereka. Yang ada hanya umpatan, ejekan dan kata-kata cemoohan saja. Namun Ayahku selalu sabar dan lapang dada menerimanya.

Memang pekerjaan Ayahku sebagai buruh tani untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Situasi dan kondisi yang ada membuat Ayah dan Ibuku tidak dapat bertahan lama di kampung halamannya. Meskipun hidup berdampingan dengan sanak keluarga. 

Suatu hari entah mengapa terbesit di benak Ayah ku ingin pindah ke kota lain. Mengadu nasib merajut impian untuk keluarganya. Tepatnya tahun 2017, kami sekeluarga pindah ke kota yang diceritakan Ayah. Sejak itu pula pendidikan SLTA ku putus ditengah jalan, ingin melanjutkan pendidikan orang tuaku sudah tak mampu. 

Saat itu usiaku baru beranjak 16 tahun, banyak kenangan dan memori yang menyedihkan dan menyakitkan sejak aku tinggalkan kota kelahiran ku. Tak hanya keluarga yang bisa dikatakan penuh dengan kesulitan. Masa remaja ku pun hancur, karena mahkota kesucian ku lenyap sudah gara-gara tipu daya, Boy. Laki-laki hidung belang di masa sekolahku dulu. 

Sangat sulit ku lupakan perbuatan Boy kepadaku, dengan teganya secara paksa menghancurkan masa depan ku. Kehormatanku tiada lain adalah kehormatan keluargaku hancur berkeping-keping didalam rasaku. Sering bergumam di dalam hatiku, “Aku tak rela Boy, Aku tidak ikhlas. Tuhan akan membalas semuanya.”

Disini, di rumah petak kost, Aku tinggal bersama keluargaku. Di kota baru ini Ayahku memulai pekerjaan serabutan yang penting dapat memenuhi kebutuhan hidup untuk bertahan dari hari ke hari. Bila Aku melihat Ayah dan Ibu terlihat jelas fisiknya sudah mulai lemah. Terbesit dalam pikiran, orang tuaku bukanlah andalan dan tidak mungkin bisa ku harapkan. 

Hari demi hari ku jalani perjalanan hidup ini. Meski Aku telah berusaha untuk melupakan kenangan yang sudah dijalani di kota kelahiranku. Namun selalu saja terngiang pahitnya penderitaan keluargaku, dan juga betapa hancurnya perasaan dan harga diri ku. Tidak banyak yang bisa kuperbuat. Semua impian dan harapanku sudah pupus.

Hari pun berganti hari dan waktu pun berganti. Aku mulai membiasakan diri menepis semua kekalutan yang ada di dalam hati dan benakku. Yang terpikir olehku bagaimana bisa membahagiakan kedua orang tua, kakak serta adikku. Perasaan itu selalu timbul dalam relung hatiku. Dan terkadang tanpa terasa air mata ini menetes begitu saja. 

Aku mulai membiasakan diri dan bergaul dengan teman-teman baruku. Tanpa kusadari perjalanan dunia kelam tengah ku mulai. Berawal dari ajakan teman-teman main ke tempat karaoke. Meski merasa kikuk dan malu-malu tapi Aku tetap berusaha mengimbangi teman-temanku. Karena memang Aku tidak terbiasa dan memang belum pernah menginjakkan kaki di dunia ini. 

Aku mulai merasa kecanduan, hampir setiap malam Aku keluar rumah pergi ke tempat karaoke dengan teman-temanku. Di dunia malam ini Aku belajar menjadi pemandu lagu dan sudah mulai terbiasa menemani tamu laki-laki, untuk mendapatkan uang cash. Kadang-kadang ada juga tamu yang ogah memberikan jasaku. 

Waktu terus bergulir dan pekerjaan ini mulai terpatri dalam diriku. Karena ternyata mendapatkan uang sangat mudah. Kadang ada juga tamu yang tidak segan-segan memberikan uang cash berlebih. Aku pun bekerja dalam batas kewajaran dan hanya sebatas pemandu lagu semata tidak lebih dari itu.

Suatu ketika, Aku diperkenalkan oleh temanku seorang laki-laki sebaya dengan Ayahku. Setelah perkenalan itu, seperti biasa menemani dia sebagai pemandu lagu. Dia baik padaku. Ternyata dibalik kebaikan dia terhadap diriku, bak kata pepatah “ada udang dibalik rempeyek.”

Dia selalu memenuhi kebutuhan hidupku. Jurus dia akhirnya membuat ku terperdaya. Aku akhirnya menjadi wanita simpanan dia. Sadar apa yang ku lakukan ini sebuah dosa. Namun dilain sisi, kebahagian orang tuaku lebih penting ketimbang diriku yang memang sudah hancur. Meski Aku sebagai wanita simpanan, ruang gerakku tak dibatasi. Aku tetap bekerja sebagai pemandu lagu. 

Setapak demi setapak dan seiring waktu berjalan, keadaan ekonomi keluargaku mulai membaik dibalik sandiwara yang ku ciptakan. Yang mereka tahu Aku hanyalah sebagai pemandu lagu, bukan wanita simpanan. Alangkah hancurnya hati keluargaku bila mereka tahu siapa diriku yang sesungguhnya. Keguncangan itu ku buang sejauh mungkin. Terbesit kata dalam hatiku, “kalian harus bahagia dengan caraku.”

Tiga tahun lebih kujalani peran sebagai wanita simpanan. Terasa sangatlah melelahkan. Impian ingin membahagiakan keluargaku sudah tercapai. Dibalik perjalanan yang kulalui sudah mulai terasa jenuh. Aku ingin hidup normal, meskipun tak sama dengan gadis-gadis lain diluar sana. Aku ingin berumah tangga dan punya suami juga anak-anak.  

Menginjak di usiaku yang ke 20 tahun, apa yang Aku impikan dan harapkan menjadi nyata. Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang umurnya tidak terpaut jauh dariku. Hubungan pacaran Aku dan dia tidak terlalu lama, kami memutuskan untuk menikah.

Kehidupan baru dalam membina dan mengarungi rumah tangga, Aku jalani bersama-sama suamiku. Tapi, kebahagian dalam berumah tangga ternyata tidak dapat Aku rasakan. Karena suamiku seorang pemalas yang tidak mau bekerja. Dua bulan Aku tak sanggup menjalani bahtera rumah tangga bersama suamiku. Dan pada akhirnya, Aku memutuskan menggugat suamiku di Pengadilan. 

Kini Aku berkumpul kembali kepada orang tuaku, memulai kembali kehidupan yang baru. Aku harus banyak belajar lagi dalam perjalanan kehidupan ini. Terus belajar dari perjalanan hidup yang sudah kulalui. Hanya takdir yang tidak dapat diubah, apabila bersungguh-sungguh maka nasib pun dapat diubah setiap manusia. 

Penulis tinggal di Bengkulu

Cerita ini hanya fiksi semata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *